BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan
pendidikan yang dilakukan dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan,
sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan
bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan. Penyuluhan
kesehatan adalah gabungan berbagai kegiatan dan kesempatan yang berlandaskan
prinsip-prinsip belajar untuk mencapai suatu keadaan, dimana individu,
keluarga, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan ingin hidup sehat, tahu
bagaimana caranya dan melakukan apa yang bisa dilakukan, secara perseorangan
maupun secara kelompok dan meminta pertolongan (Effendy, 1998).
Pendidikan kesehatan adalah suatu proses
perubahan pada diri seseorang yang dihubungkan dengan pencapaian tujuan
kesehatan individu, dan masyarakat . Pendidikan kesehatan tidak dapat diberikan
kepada seseorang oleh orang lain, bukan seperangkat prosedur yang harus
dilaksanakan atau suatu produk yang harus dicapai, tetapi sesungguhnya
merupakan suatu proses perkembangan yang berubah secara dinamis, yang
didalamnya seseorang menerima atau menolak informasi, sikap, maupun praktek
baru, yang berhubungan dengan tujuan hidup sehat (Suliha, dkk., 2002).
Anak-anak yang sukses dalam belajar
memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meraih keberhasilan akademik di masa
depan (Smith, 2003).
1.2.
Rumusan
Masalah
a. Pengertian
Pendidikan Kesehatan dan Penyuluhan Kesehatan?
b. Perbedaan
Pendidikan dan Penyuluhan Kesehatan?
c. Prinsip
Pendidikan dan Penyuluhan Kesehatan?
d. Ruang lingkup pendidikan
kesehatan masyarakat?
e. Metode pendidikan kesehatan?
f. Alat bantu dan media pendidikan kesehatan?
g. Perilaku kesehatan?
h. Perubahan perilaku dan
proses belajar?
1.3.
Tujuan
a. Dapat
Menjelaskan Pengertian Penyuluhan Kesehatan dan Pengertian Pendidikan Kesehatan.
b. Dapat
Menyebutkan Perbedaan Pendidikan Dan Penyuluhan Kesehatan.
c. Dapat
Menyebutkan Prinsip Pendidikan Dan Penyuluhan Kesehatan.
d. Dapat menyebutkan tentang Ruang
lingkup pendidikan kesehatan masyarakat.
e. Dapat menjelaskan tentang Metode pendidikan kesehatan.
f. Dapat menyebutkan tentang Alat bantu dan media
pendidikan kesehatan.
g. Dapat menjelaskan tentang Perilaku kesehatan.
h. Dapat menjelaskan tentang Perubahan
perilaku dan proses belajar.
1.4. Manfaat
Penyusunan
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun praktis.
Secara teoritis makalah ini berguna sebagai pengembangan pengetahuan mengenai
Pendidikan dan Penyuluhan Kesehatan.
Secara
praktis makalah ini berguna sebagai :
a.
Penulis, sebagai wahana
penambahan pengetahuan dan keilmuan dibidang kesehatan.
b.
Pembaca, sebagai media
informasi dalam pembuatan makalah.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1.
Definisi
Pendidikan Dan Penyuluhan Kesehatan
Pendidikan
kesehatan adalah proses membuat orang mampu meningkatkan kontrol dan memperbaiki
kesehatan individu. Kesempatan yang direncanakan untuk individu, kelompok atau
masyarakat agar belajar tentang kesehatan dan melakukan perubahan-peubahan
secara suka rela dalam tingkah laku individu (Entjang, 1991)
Wood
dikutip dari Effendi (1997), memberikan pengertian pendidikan kesehatan
merupakan sejumlah pengalaman yang pengaruh menguntungkan secara kebiasaan,
sikap dan pengetahuan yang ada hubungannya dengan kesehatan perseorangan,
mayarakat dan bangsa. Kesemuannya ini, dipersiapkan dalam rangka mempermudah
diterimannya secara suka rela perilaku yang akan meningkatkan dan memelihara
kesehatan.
Penyuluhan
adalah proses perubahan perilaku dikalangan masyarakat agar mereka tahu, mau
dan mampu melakukan perubahan demi tercapainya peningkatan produksi, pendapatan
atau keuntungan dan perbaikan kesejahteraannya (Subejo, 2010).
Pengertian
penyuluhan kesehatan sama dengan pendidikan kesehatan masyarakat (Public Health
Education), yaitu suatu kegiatan atau usaha untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada
masyarakat, kelompok atau individu. Dengan harapan bahwa dengan adanya pesan
tersebut atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang
lebih baik. Akhirnya pengetahuan tersebut diharapkan dapat berpengaruh terhadap
perilakunya. Dengan kata lain, dengan adanya pendidikan tersebut dapat membawa
akibat terhadap perubahan perilaku sasaran.
Penyuluhan
kesehatan juga suatu proses, dimana proses tersebut mempunyai masukan (input)
dan keluaran (output). Di dalam suatu proses pendidikan kesehatan yang menuju
tercapainya tujuan pendidikan yakni perubahan perilaku dipengaruhi oleh banyak
faktor.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi suatu proses pendidikan disamping masukannya sendiri juga
metode materi atau pesannya, pendidik atau petugas yang melakukannya, dan
alat-alat bantu atau alat peraga pendidikan. Agar dicapai suatu hasil optimal,
maka faktor-faktor tersebut harus bekerjasama secara harmonis. Hal ini berarti,
bahwa untuk masukan (sasaran pendidikan) tertentu, harus menggunakan cara tertentu
pula, materi juga harus disesuaikan dengan sasaran, demikian juga alat bantu
pendidikan disesuaikan. Untuk sasaran kelompok, metodenya harus berbeda dengan
sasaran massa dan sasaran individual. Untuk sasaran massa pun harus berbeda
dengan sasaran individual dan sebagainya (Notoatmodjo, 2003).
2.2.
Perbedaan
Pendidikan Dan Penyuluhan Kesehatan
No.
|
Penyuluhan
Kesehatan
|
Pendidikan
Kesehatan
|
1.
|
Harus dilakukan oleh tenaga
kesehatan.
|
Dapat dilakukan oleh siapa saja
yang mengerti tentang kesehatan.
|
2.
|
Dilakukan dalam asuhan kebidanan.
|
Tidak harus dalam asuhan
kebidanan
|
3.
|
Dalam pelaksanaan diberikan di
depan kelompok atau masyarakat.
|
Dapat dilaksanakan hanya di depan
individu (satu orang)
|
4.
|
Bersifat umum
|
Dapat bersifat umum dan pribadi
|
2.3. Prinsip Pendidikan Dan
Penyuluhan Kesehatan
Prinsip
pendidikan dan penyuluhan kesehatan antara lain:
a.
Pendidikan dan
penyuluhan kesehatan bukan hanya pelajaran di kelas atau di tempat pelayanan
kesehatan, tetapi merupakan kumpulan pengalaman dimana saja dan kapan saja sepanjang
dapat mempengaruhi pengetahuan sikap dan kebiasaan sasaran pendidikan,
b.
Pendidikan dan
penyuluhan kesehatan tidak dapat secara mudah diberikan oleh seseorang kepada
orang lain, karena pada akhirnya sasaran pendidikan itu sendiri yang dapat
mengubah kebiasaan dan tingkah lakunya sendiri,
c.
Bahwa yang harus
dilakukan oleh pendidik adalah menciptakan sasaran agar individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat dapat mengubah sikap dan tingkah lakunya sendiri, dan
d.
Pendidikan dan
penyuluhan kesehatan dikatakan berhasil bila sasaran pendidikan (individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat) sudah mengubah sikap dan tingkah lakunya
sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan (Denman, 2002).
2.4.
Ruang
lingkup pendidikan kesehatan masyarakat
Ruang
lingkup pendidikan kesehatan masyarakat dapat dilihat dari 3 dimensi :
a.
Dimensi sasaran
1)
Pendidikan
kesehatan individu dengan sasaran individu.
2)
Pendidikan
kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok masyarakat tertentu.
3)
Pendidikan
kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas.
b.
Dimensi tempat pelaksanaan
1)
Pendidikan kesehatan
di rumah sakit dengan sasaran pasien dan keluarga.
2)
Pendidikan
kesehatan di sekolah dengan sasaran pelajar.
3)
Pendidikan
kesehatan di masyarakat atau tempat kerja dengan sasaran masyarakat atau
pekerja.
c.
Dimensi tingkat pelayanan kesehatan
1)
Pendidikan
kesehatan promosi kesehatan (Health Promotion), misal : peningkatan
gizi, perbaikan sanitasi lingkungan, gaya hidup dan sebagainya.
2)
Pendidikan
kesehatan untuk perlindungan khusus (Specific Protection) misal
: imunisasi
3)
Pendidikan
kesehatan untuk diagnosis dini dan pengobatan tepat (Early diagnostic
and prompt treatment) misal : dengan pengobatan layak dan sempurna
dapat menghindari dari resiko kecacatan.
4)
Pendidikan
kesehatan untuk rehabilitasi (Rehabilitation) misal : dengan
memulihkan kondisi cacat melalui latihan-latihan tertentu.
2.5.
Metode
pendidikan kesehatan
a.
Metode pendidikan Individual (perorangan)
Bentuk dari metode individual ada 2 (dua) bentuk :
1)
Bimbingan dan
penyuluhan (guidance and counseling), yaitu ;
a)
Kontak
antara klien dengan petugas lebih intensif
b)
Setiap
masalah yang dihadapi oleh klien dapat dikorek dan dibantu penyelesaiannya.
c)
Akhirnya
klien tersebut akan dengan sukarela dan berdasarkan kesadaran, penuh pengertian
akan menerima perilaku tersebut (mengubah perilaku)
2)
Interview (wawancara)
a)
Merupakan
bagian dari bimbingan dan penyuluhan
b)
Menggali
informasi mengapa ia tidak atau belum menerima perubahan, untuk mengetahui
apakah perilaku yang sudah atau yang akan diadopsi itu mempunyai dasar
pengertian dan kesadaran yang kuat, apabila belum maka perlu penyuluhan yang
lebih mendalam lagi.
b.
Metode pendidikan Kelompok
Metode
pendidikan Kelompok harus memperhatikan apakah kelompok itu besar atau kecil,
karena metodenya akan lain. Efektifitas metodenya pun akan tergantung pada
besarnya sasaran pendidikan.
1.)
Kelompok
besar
a)
Ceramah
; metode yang cocok untuk sasaran yang berpendidikan tinggi maupun rendah.
b)
Seminar
; hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan pendidikan menengah ke atas.
Seminar adalah suatu penyajian (presentasi) dari satu ahli atau beberapa ahli
tentang suatu topik yang dianggap penting dan biasanya dianggap hangat di
masyarakat.
2.)
Kelompok
kecil
a)
Diskusi
kelompok ;
Dibuat
sedemikian rupa sehingga saling berhadapan, pimpinan diskusi/penyuluh duduk
diantara peserta agar tidak ada kesan lebih tinggi, tiap kelompok punya
kebebasan mengeluarkan pendapat, pimpinan diskusi memberikan pancingan, mengarahkan,
dan mengatur sehingga diskusi berjalan hidup dan tak ada dominasi dari salah
satu peserta.
b)
Curah
pendapat (Brain Storming) ;
Merupakan
modifikasi diskusi kelompok, dimulai dengan memberikan satu masalah,
kemudian peserta memberikan jawaban/tanggapan, tanggapan/jawaban tersebut
ditampung dan ditulis dalam flipchart/papan tulis, sebelum semuanya mencurahkan
pendapat tidak boleh ada komentar dari siapa pun, baru setelah semuanya
mengemukaan pendapat, tiap anggota mengomentari, dan akhirnya terjadi diskusi.
c)
Bola
salju (Snow Balling)
Tiap
orang dibagi menjadi pasangan-pasangan (1 pasang 2 orang). Kemudian dilontarkan
suatu pertanyaan atau masalah, setelah lebih kurang 5 menit tiap 2 pasang
bergabung menjadi satu. Mereka tetap mendiskusikan masalah tersebut, dan
mencari kesimpulannya. Kemudian tiap 2 pasang yang sudah beranggotakan 4 orang
ini bergabung lagi dengan pasangan lainnya dan demikian seterusnya akhirnya
terjadi diskusi seluruh kelas.
d)
Kelompok kecil-kecil (Buzz
group)
Kelompok langsung
dibagi menjadi kelompok kecil-kecil, kemudian dilontarkan suatu permasalahan
sama/tidak sama dengan kelompok lain, dan masing-masing kelompok mendiskusikan
masalah tersebut. Selanjutnya kesimpulan dari tiap kelompok tersebut dan dicari
kesimpulannya.
e)
Memainkan
peranan (Role Play)
Beberapa
anggota kelompok ditunjuk sebagai pemegang peranan tertentu untuk memainkan
peranan tertentu, misalnya sebagai dokter puskesmas, sebagai perawat atau
bidan, dll, sedangkan anggota lainnya sebagai pasien/anggota masyarakat. Mereka
memperagakan bagaimana interaksi/komunikasi sehari-hari dalam melaksanakan
tugas.
f)
Permainan
simulasi (Simulation Game)
Merupakan
gambaran role play dan diskusi kelompok. Pesan-pesan disajikan dalam bentuk
permainan seperti permainan monopoli. Cara memainkannya persis seperti bermain
monopoli dengan menggunakan dadu, gaco (penunjuk arah), dan papan main.
Beberapa orang menjadi pemain, dan sebagian lagi berperan sebagai nara sumber.
c.
Metode pendidikan Massa
Pada
umumnya bentuk pendekatan (cara) ini adalah tidak langsung. Biasanya
menggunakan atau melalui media massa. Contoh :
1.)
Ceramah
umum (public speaking)
Dilakukan
pada acara tertentu, misalnya Hari Kesehatan Nasional, misalnya oleh menteri
atau pejabat kesehatan lain.
2.)
Pidato-pidato
diskusi tentang kesehatan melalui media elektronik baik TV maupun radio, pada
hakikatnya adalah merupakan bentuk pendidikan kesehatan massa.
3.)
Simulasi,
dialog antar pasien dengan dokter atau petugas kesehatan lainnya tentang suatu
penyakit atau masalah kesehatan melalui TV atau radio adalah juga merupakan
pendidikan kesehatan massa. Contoh : ”Praktek Dokter Herman Susilo” di
Televisi.
4.)
Sinetron
”Dokter Sartika” di dalam acara TV juga merupakan bentuk pendekatan kesehatan
massa. Sinetron Jejak sang elang di Indosiar hari Sabtu siang (th 2006)
5.)
Tulisan-tulisan
di majalah/koran, baik dalam bentuk artikel maupun tanya jawab /konsultasi
tentang kesehatan antara penyakit juga merupakan bentuk pendidikan kesehatan
massa.
6.)
Bill
Board, yang dipasang di
pinggir jalan, spanduk poster dan sebagainya adalah juga bentuk pendidikan
kesehatan massa. Contoh : Billboard ”Ayo ke Posyandu”. Andalah yang dapat
mencegahnya (Pemberantasan Sarang Nyamuk).
2.6.
Alat
bantu dan media pendidikan kesehatan
a.
Alat bantu (peraga)
1.)
Pengertian
;
Alat-alat
yang digunakan oleh peserta didik dalam menyampaikan bahan
pendidikan/pengajaran, sering disebut sebagai alat peraga. Elgar Dale membagi
alat peraga tersebut menjadi 11 (sebelas) macam, dan sekaligus menggambarkan
tingkat intensitas tiap-tiap alat bantu tersebut dalam suatu kerucut. Menempati
dasar kerucut adalah benda asli yang mempunyai intensitas tertinggi disusul
benda tiruan, sandiwara, demonstrasi, field trip/kunjungan lapangan, pameran,
televisi, film, rekaman/radio, tulisan, kata-kata. Penyampaian bahan dengan
kata-kata saja sangat kurang efektif/intensitasnya paling rendah.
2.)
Faedah
alat bantu pendidikan
a)
Menimbulkan
minat sasaran pendidikan.
b)
Mencapai
sasaran yang lebih banyak.
c)
Membantu
mengatasi hambatan bahasa.
d)
Merangsang
sasaran pendidikan untuk melaksanakan pesan-pesan kesehatan.
e)
Membantu
sasaran pendidikan untuk belajar lebih banyak dan cepat.
f)
Merangsang
sasaran pendidikan untuk meneruskan pesan-pesan yang diterima kepada orang
lain.
g)
Mempermudah
penyampaian bahan pendidikan/informasi oleh para pendidik/pelaku pendidikan.
h)
Mempermudah
penerimaan informasi oleh sasaran pendidikan.Menurut penelitian ahli indra,
yang paling banyak menyalurkan pengetahuan ke dalam otak adalah mata. Kurang
lebih 75-87% pengetahuan manusia diperoleh/disalurkan melalui
mata, sedangkan 13-25% lainnya tersalurkan melalui indra lain. Di sini dapat
disimpulkan bahwa alat-alat visual lebih mempermudah cara penyampaian dan
penerimaan informasi atau bahan pendidikan.
i)
Mendorong
keinginan orang untuk mengetahui, kemudian lebih mendalami, dan akhirnya
memberikan pengertian yang lebih baik.
j)
Membantu
menegakkan pengertian yang diperoleh.
3.)
Macam-macam alat bantu pendidikan
a)
Alat
bantu lihat (visual aids) ;
Alat yang diproyeksikan : slide, film, film strip dan
sebagainya.Alat
yang tidak diproyeksikan ; untuk dua dimensi misalnya gambar, peta, bagan ;
untuk tiga dimensi misalnya bola dunia, boneka, dsb.
b)
Alat bantu dengar (audio aids) ; piringan hitam, radio,
pita suara, dsb.
c)
Alat bantu lihat dengar (audio visual aids) ; televisi dan
VCD.
4.)
Sasaran
yang dicapai alat bantu pendidikan
a)
Individu
atau kelompok
b)
Kategori-kategori
sasaran seperti ; kelompok umur, pendidikan, pekerjaan, dsb.
c)
Bahasa
yang mereka gunakan
d)
Adat
istiadat serta kebiasaan
e)
Minat
dan perhatian
f)
Pengetahuan
dan pengalaman mereka tentang pesan yang akan diterima.
5.)
Merencanakan
dan menggunakan alat peraga
Hal-hal
yang perlu diperhatikan adalah :
a)
Tujuan
pendidikan, tujuan ini dapat untuk :
·
Mengubah
pengetahuan / pengertian, pendapat dan konsep-konsep.
·
Mengubah
sikap dan persepsi.
·
Menanamkan
tingkah laku/kebiasaan yang baru.
b)
Tujuan
penggunaan alat peraga
·
Sebagai
alat bantu dalam latihan / penataran/pendidikan.
·
Untuk
menimbulkan perhatian terhadap sesuatu masalah.
·
Untuk
mengingatkan sesuatu pesan / informasi.
·
Untuk
menjelaskan fakta-fakta, prosedur, tindakan.
6.)
Persiapan
penggunaan alat peraga
Semua
alat peraga yang dibuat berguna sebagai alat bantu belajar dan tetap harus
diingat bahwa alat ini dapat berfungsi mengajar dengan sendirinya. Kita harus mengembangkan
ketrampilan dalam memilih, mengadakan alat peraga secara tepat sehingga
mempunyai hasil yang maksimal.Contoh : satu set flip chart tentang makanan
sehat untuk bayi/anak-anak harus diperlihatkan satu persatu secara berurutan
sambil menerangkan tiap-tiap gambar beserta pesannya. Kemudian diadakan
pembahasan sesuai dengan kebutuhan pendengarnya agar terjadi komunikasi dua
arah. Apabila kita tidak mempersiapkan diri dan hanya mempertunjukkan
lembaran-lembaran flip chart satu demi satu tanpa menerangkan atau membahasnya
maka penggunaan flip chart tersebut mungkin gagal.
7.)
Cara
mengunakan alat peraga
Cara
mempergunakan alat peraga sangat tergantung dengan alatnya. Menggunakan gambar
sudah barang tentu lain dengan menggunakan film slide. Faktor sasaran pendidikan
juga harus diperhatikan, masyarakat buta huruf akan berbeda dengan masyarakat
berpendidikan. Lebih penting lagi, alat yang digunakan juga harus menarik,
sehingga menimbulkan minat para pesertanya.
Ketika
mempergunakan AVA, hendaknya memperhatikan :
a)
Senyum
adalah lebih baik, untuk mencari simpati.
b)
Tunjukkan
perhatian, bahwa hal yang akan dibicarakan/diperagakan itu, adalah penting.
c)
Pandangan
mata hendaknya ke seluruh pendengar, agar mereka tidak kehilangan kontrol dari
pihak pendidik.
d)
Nada
suara hendaknya berubah-ubah, adalah agar pendengar tidak bosan dan tidak
mengantuk.
e)
Libatkan
para peserta/pendengar, berikan kesempatan untuk memegang dan atau mencoba
alat-alat tersebut.
f)
Bila
perlu berilah selingan humor, guna menghidupkan suasana dan sebagainya.
b.
Media pendidikan kesehatan
Media
pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah alat bantu pendidikan (audio
visual aids/AVA). Disebut media pendidikan karena alat-alat tersebut
merupakan alat saluran (channel) untuk menyampaikan kesehatan
karena alat-alat tersebut digunakan untukmempermudah penerimaan
pesan-pesan kesehatan bagi masyarakat atau ”klien”. Berdasarkan fungsinya
sebagai penyaluran pesan-pesan kesehatan (media), media ini dibagi menjadi 3
(tiga) : Cetak, elektronik, media papan (bill board)
1.)
Media
cetak
a)
Booklet : untuk menyampaikan pesan dalam bentuk buku,
baik tulisan maupun gambar.
b)
Leaflet : melalui lembar yang dilipat, isi pesan bisa
gambar/tulisan atau keduanya.
c)
Flyer
(selebaran) ; seperti
leaflet tetapi tidak dalam bentuk lipatan.
d)
Flip
chart (lembar Balik) ;
pesan/informasi kesehatan dalam bentuk lembar balik. Biasanya dalam bentuk
buku, dimana tiap lembar (halaman) berisi gambar peragaan dan di baliknya
berisi kalimat sebagai pesan/informasi berkaitan dengan gambar tersebut.
e)
Rubrik/tulisan-tulisan pada surat kabar atau majalah, mengenai bahasan
suatu masalah kesehatan, atau hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan.
f)
Poster ialah bentuk media cetak berisi
pesan-pesan/informasi kesehatan, yang biasanya ditempel di tembok-tembok, di
tempat-tempat umum, atau di kendaraan umum.
g)
Foto, yang mengungkapkan informasi-informasi kesehatan.
2.)
Media
elektronik
a)
Televisi
; dapat dalam bentuk sinetron, sandiwara, forum diskusi/tanya jawab,
pidato/ceramah, TV, Spot, quiz, atau cerdas cermat, dll.
b)
Radio
; bisa dalam bentuk obrolan/tanya jawab, sandiwara radio, ceramah, radio spot,
dll.
c)
Video
Compact Disc (VCD)
d)
Slide
: slide juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan/informasi kesehatan.
e)
Film
strip juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan kesehatan.
3.)
Media
papan (bill board)
Papan/bill
board yang dipasang di tempat-tempat umum dapat dipakai diisi dengan
pesan-pesan atau informasi – informasi kesehatan. Media papan di sini juga
mencakup pesan-pesan yang ditulis pada lembaran seng yang ditempel pada kendaraan
umum (bus/taksi).
2.7.
Perilaku
kesehatan
a.
Konsep perilaku
Skinner
(1938) seorang ahli perilaku mengemukakan bahwa perilaku adalah merupakan hasil
hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapan (respons). Ia membagi
respons menjadi 2 :
1.)
Respondent
respons/reflexive respons,
ialah respons yang ditimbulkan oleh rangsangan tertentu. Perangsangan semacam
ini disebut elicting stimuli, karena menimbulkan respons-respons
yang relatif tetap, misalnya : makanan lezat menimbulkan keluarnya air liur,
cahaya yang kuat akan menimbulkan mata tertutup, dll. Respondent respons
(respondent behavior) ini mencakup juga emosi respons atau emotional behavior.
Emotional respons ini timbul karena hal yang kurang mengenakkan organisme yang
bersangkutan. Misalnya menangis karena sedih/sakit, muka merah (tekanan darah
meningkat karena marah). Sebaliknya hal-hal yang mengenakkan pun dapat
menimbulkan perilaku emosional misalnya tertawa, berjingkat-jingkat karena
senang, dll.
2.)
Operant
Respons atau instrumental respons,
adalah respons yang timbul dan berkembang diikuti oleh perangsangan tertentu.
Perangsang semacam ini disebutreinforcing stimuli atau reinforcer,
karena perangsangan-perangsangan tersebut memperkuat respons yang telah
dilakukan oleh organisme. Oleh karena itu, perangsang yang demikian itu
mengikuti atau memperkuat sesuatu perilaku tertentu yang telah dilakukan.
Contoh : Apabila seorang anak belajar atau telah melakukan suatu perbuatan,
kemudian memperoleh hadiah, maka ia akan menjadi lebih giat belajar atau akan
lebih baik lagi melakukan perbuatan tersebut. Dengan kata lain, responsnya akan
lebih intensif atau lebih kuat lagi.
b.
Perilaku kesehatan
Yaitu
suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan
sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan.
Perilaku kesehatan mencakup 4 (empat) :
1.)
Perilaku
seseorang terhadap sakit dan penyakit, yaitu bagaimana manusia
merespons, baik pasif (mengetahui, mempersepsi penyakit dan rasa sakit yang ada
pada dirinya maupun di luar dirinya, maupun aktif (tindakan) yang dilakukan
sehubungan dengan penyakit dan sakit tersebut. Perilaku terhadap sakit dan
penyakit ini dengan sendirinya sesuai dengan tingkatan-tingkatan pencegahan
penyakit, misalnya : perilaku pencegahan penyakit (health prevention
behavior), adalah respons untuk melakukan pencegahan penyakit, misalnya :
tidur dengan kelambu untuk mencegah gigitan nyamuk malaria, imunisasi,dll.
Persepsi adalah sebagai pengalaman yang dihasilkan melalui panca indra.
2.)
Perilaku
terhadap pelayanan kesehatan, baik pelayanan kesehatan tradisional maupun
modern. Perilaku ini mencakup respons terhadap fasilitas pelayanan, cara
pelayanan, petugas kesehatan, dan obat-obatan, yang terwujud dalam pengetahuan,
persepsi, sikap dan pengguanaan fasilitas, petugas dan obat-obatan.
3.)
Perilaku
terhadap makanan (nutrition behavior), yakni respons seseorang
terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan, meliputi pengetahuan,
persepsi, sikap dan praktek kita terhadap makanan serta unsur-unsur yang
terkandung di dalamnya/zat gizi, pengelolaan makanan, dll.
4.)
Perilaku
terhadap lingkungan kesehatan (environmental health behavior) adalah
respons seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia.
Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan lingkungan itu sendiri (dengan
air bersih, pembuangan air kotor, dengan limbah, dengan rumah yang sehat,
dengan pembersihan sarang-sarang nyamuk (vektor), dan sebagainya.
Becker (1979) mengajukan klasifikasi perilaku yang berhubungan
dengan kesehatan(health behavior) sebagai berikut :
1.)
Perilaku
kesehatan (health behavior), yaitu hal-hal yang berkaitan dengan
tindakan atau kegiatan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan
kesehatannya, termasuk juga tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit,
kebersihan perorangan, memilih makanan, sanitasi, dan sebagainya.
2.)
Perilaku
sakit (illness behavior), yakni segala tindakan atau kegiatan yang
dilakukan oleh seseorang individu yang merasakan sakit, untuk merasakan
merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit, termasuk kemampuan
atau pengetahuan individu untuk mengidentifikasi penyakit, penyebab penyakit,
serta usaha-usaha mencegah penyakit tersebut.
3.)
Perilaku
peran sakit (the sick role behavior), yakni segala tindakan atau
kegiatan yang dilakuakan oleh individu yang sedang sakit untuk memperoleh
kesembuhan. Perilaku ini disamping berpengaruh terhadap kesehatan/kesakitannya
sendiri, juga berpengaruh terhadap orang lain, terutama anak-anak yang belum
mempunyai kesadaran dan tanggung jawab terhadap kesehatannya.
c.
Bentuk perilaku
Secara lebih operasional, perilaku dapat diartikan
suatu respons organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar
subjek tersebut. Respons berbentuk 2 (dua) macam :
1.)
Bentuk
pasif adalah
respons internal, yaitu yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara
langsung dapat terlihat oleh orang lain, misal tanggapan atau sikap batin dan
pengetahuan. Misalnya ; seorang ibu tahu bahwa imunisasi itu mencegah
suatu penyakit tertentu, meski ia tak membawa anaknya ke puskesmas, seseorang
yang menganjurkan orang lain untuk ber-KB, meski ia tidak ikut KB. Dari contoh
di atas ibu itu telah tahu guna imunisasi dan orang tersebut punya sikap
positif mendukung KB, meski mereka sendiri belum melakukan secara konkret
terhadap kedua hal tersebut. Oleh sebab itu perilaku mereka ini masih
terselubung (covert behavior).
2.)
Bentuk
aktif, yaitu perilaku
itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Misalnya pada kedua contoh di
atas, si ibu sudah membawa anaknya ke puskesmas untuk imunisasi dan orang pada kasus
kedua sudah ikut KB dalam arti sudah menjadi akseptor KB. Oleh karena itu
perilaku mereka ini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata, maka
disebut ”overt behavior”.
d.
Domain perilaku kesehatan
1.)
Menurut
Bloom
a)
Perilku
kognitif (kesadaran, pengetahuan)
b)
Afektif
(emosi )
c)
Psikomotor
(gerakan, tindakan)
2.)
Menurut
Ki Hajar Dewantara
a)
Cipta
(peri akal)
b)
Rasa
(peri rasa)
c)
Karsa
(peri tindak)
3.)
Ahli-ahli
lain
a)
Knowledge (pengetahuan),
yaitu hasil ”tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan (rasa,
lihat, dengar, raba, bau) terhadap suatu obyek tertentu.
b)
Attitude
(sikap), yaitu reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu
stimulus atau obyek. Ahli lain menyatakan kesiapan/kesediaan seseorang untuk
bertindak.
c)
Practice
(tindakan/praktik). Suatu sikap belum tentu otomatis terwujud dalam suatu
tindakan (overt behavior). Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan
nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara
lain fasilitas. Sikap ibu yang positif terhadap imunisasi tersebut harus
mendapat konfirmasi dari suaminya, dan ada fasilitas imunisasi yang mudah
dicapai, agar ibu tersebut mengimunisasikan anaknya. Di samping faktor
fasilitas juga diperlukan faktor dukungan (support) dari fihak
lain, misal suami atau istri, orang tua atau mertua, sangat penting untuk
mendukung praktek keluarga berencana.
2.8.
Perubahan
perilaku dan proses belajar
a.
Teori stimulus dan transformasi
Teori stimulus - respon kurang memperhitungkan
faktor internal, dan transformasi yang telah memperhitungkan faktor
internal. Teori stimulus respon yang berpangkal pada psikologi asosiasi
menyatakan bahwa apa yang terjadi pada diri subjek belajar adalah merupakan
rahasia atau biasa dilihat sebagai kotak hitam ( black box).
Belajar adalah mengambil tanggapan - tanggapan dan menghubungkan tanggapan -
tanggapan dengan mengulang - ulang. Makin banyak diberi stimulus, makin
memperkaya tanggapan pada subyek belajar.
Teori transformasi yang berlandaskan psikologi
kognitif, menyatakan bahwa belajar adalah merupakan proses yang bersifat
internal di mana setiap proses tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor
eksternal, antara lain metode pengajaran. Faktor eksternal itu misalnya
persentuhan, repetisi/pengulangan, penguat. Faktor internal misalnya fakta,
informasi, ketrampilan, intelektual, strategi.
b.
Teori-teori belajar sosial (social learning)
1.)
Teori
belajar sosial dan tiruan dari Millers dan Dollard
Ada 3 macam mekanisme tingkah laku tiruan;
a)
Tingkah laku
sama (same behavior).
Contoh : dua orang yang berbelanja di toko yang sama
dan dengan barang yang sama.
b)
Tingkah
laku tergantung (macthed dependent behavior).
Contoh : kakak-beradik yang menunggu ibunya pulang
dari pasar. Biasanya ibu mereka membawa coklat (ganjaran). Adiknya juga
mengikuti. Adiknya yang semula hanya meniru tingkah laku kakaknya, di lain
waktu meski kakaknya tak ada, ia akan lari menjemput ibunya yang baru pulang
dari pasar.
c)
Tingkah laku
salinan (copying behavior)
Perbedaannya dengan tingkah laku bergantung adalah dalam tingkah laku
bergantung ini si peniru hanya bertingkah laku terhadap isyarat yang diberikan
oleh model pada saat itu saja. Sedangkan pada tingkah laku salinan, si peniru
memperhatikan juga tingkah laku model di masa lalu dan masa yang akan datang.
Tingkah laku model dalam kurun waktu relatif panjang ini akan dijadikan patokan
si peniru untuk memperbaiki tingkah lakunya sendiri di masa yang akan datang,
sehingga lebih mendekati tigkah laku model.
2.)
Teori
belajar sosial dari Bandura dan Walter
a)
Efek
modeling (modelling effect), yaitu peniru melakukan tingkah laku
baru melalui asosiasi sehingga sesuai dengan tingkah laku model.
b)
Efekmenghambat (inhibition) danmenghapus
hambatan(disinhibition), dimana tingkah laku yang tidak sesuai dengan
model dihambat timbulnya, sedangkan tingkah laku yang sesuai dengan tingkah
laku model dihapuskan hambatannya sehingga timbul tingkah laku yang dapat
menjadi nyata.
c)
Efek
kemudahan (facilitation effect), yaitu tingkah laku-tingkah laku
yang sudah pernah dipelajari oleh peniru lebih mudah muncul kembali dengan mengamati
tingkah laku model.
2.9.
Contoh Pendidikan dan Penyuluhan Kebidanan
c.
Penyuluhan KB
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya
kehamilan. Sebelum pemberian
metode kontrasepsi, misalnya pil, suntik, atau AKDR, terlebih dahulu menetukan
apakah ada keadaan yang membutuhkan perhatian khusus atau masalah ( diabetes
atau tekanan darah tinggi ) yang membutuhkan pengamatan dan pengelolaan lebih
lanjut sehingga masalah utama dapat diketahui melalui anamnesis dan setiap
klien dapat memilih kontrasepsi yang di inginkan.
Program KB adalah bagian yang terpadu dalam program
pembangunan nasional dan bertujuan untuk turut serta menciptakan kesejahteraan
ekonomi, spiritual, dan sosial penduduk Indonesia. Selain itu juga untuk
memperkecil angka kelahiran, menjaga kesehatan ibu dan anak, serta membatasi
kelahiran jika jumlah anak sudah mencukupi.
Metode Kontrasepsi antara lain
:
1.
Metode sederhana
a)
Metode tanpa alat,
antara lain :
KB Alamiah ( KBA ), metode kalender, suhu basal, lender serviks, simto
termal, coitus interuptus.
b)
Metode dengan alat
:
Mekanis/ barier :
kondom, barier intra vagina/ diafragma
Kondom adalah sarung karet tipis penutup penis yang menampung cairan sperma pada saat pria ejakulasi. Tingkat
keberhasilannya 80 – 95%.
Jenis kondom antara lain :
1)
Kondom yang
terbuat dari kulit ( dibuat dari usus domba )
2)
Kondom yang
terbuat dari karet/ lateks ( lebih elastis, murah, sehingga lebih banyak
dipakai )
3)
Kondom yang
terbuat dari plastik/ vinil
Efek samping kondom meliputi :
1)
Reaksi alergi
terhadap bahan karet
2)
Keluhan utama dari
akseptor adalah berkurangnya sensitivitas glans penis.
c)
Kimia : spermisida
Spermisida adalah bahan kimia ( biasanya non oksinol – 9 ) digunakan untuk
menonaktifkan/ membunuh sperma.
Dikemas dalam bentuk :
1)
Aerosol
2)
Tablet vaginal,
supositoria
3)
Krim
Efek samping spermasida jarang
terjadi, ada juga reaksi alergi, mempunyai rasa tidak enak
2.
Metode Modern
a)
Hormonal :
oral pil, suntik, implant/ subkutis
Jenis oral pil meliputi : POK dan mini pil
Jenis suntikan meliputi : kombinasi dan progestin
Jenis implant meliputi : norplant, implanon, jadena dan indoplant.
b)
Mekanis :
AKDR ( Copper T, Multiload, Seven Copper, Lippes loap)
c)
Metode KB Darurat
BAB III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Pada dasarnya, setiap orang baik itu
individu, keluarga, kelompok atau pun masyarakat, membutuhkan penyuluhan dan
pendidikan kesehatan. Maka dari itu para pekerja pelayanan kesehatan harus
memberikan pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat. Namun hal itu baru
dapat dikatakan berhasil, apabila pendidikan yang diberikan sudah dapat
mengubah sikap dan tingkah laku sasaran pendidikan tersebut. Tapi terlebih dari
itu semua, sasaran pendidikan itu sendiri yang dapat mengubah kebiasaan dan
tingkah lakunya sendiri.
3.2
Saran
a. Bagi
Instusi STIKES Darul Azhar
Diharapkan
agar lebih dapat memperbanyak buku-buku tentang kebidanan, agar mahasiswi mudah
mendapatkan informasi yang diperlukan.
b. Bagi
Petugas Kesehatan
Penulis
menyarankan agar petugas kesehatan dapat berkerja profesional
dalam menjalankan tugas dan kewajiban sebagai seorang bidan yang ideal dan
bertanggung jawab. Sehingga pasien dapat merasakan kepuasan atas asuhan kebidanan yang
diberikan. Agar senantiasa meningkatkan pengetahuan
dan keteram-pilannya serta pelayanannya untuk menurunkan angka mortalitas dan
morbiditas ibu dan anak.